Kenapa Harus Marah

oleh Fery Ramadhansyah

Jumat, 14/08/2009 14:33 WIB

Siapa saja, kalau ada hak-haknya tidak diindahkan oleh orang lain maka ia akan menimbulkan sikap yang berlawanan. Sikap inilah yang sering kelihatan manakala seseorang merasa dirinya diabaikan begitu saja. serasa tidak berharga dan tidak dipandang oleh orang lain. Apalagi dalam realitanya ia lebih baik dari pada yang lain. Maka sikap marah adalah ekspresinya. Tentu setiap kita pernah marah. Apapun alasannya, jika hal tersebut tidak berkenan dalam hati kita, maka sikap yang muncul cenderung negatif. Marah, jengkel, kesal dan lain sebagainya akan muncul beriringan dengan rasa ego yang ada. Dan tidak sedikit dari orang-orang yang tidak bisa mengendalikan emosinya, melahirkan sikap negatif yang merugikan, bukan hanya bagi dirinya tetapi juga orang yang ada disekitar. Satu kali aku menaiki angkutan umum dari mahattah (halte) akhir hay ‘Asyir menuju hay Sabi’. Di pertengahan jalan, di mahattah Gami ada seorang penumpang memberhentikan angkutan yang sedang kukendarai tersebut. Orangnya masih muda, kutaksir usianya sekitar dua puluh tujuhan. Mungkin, karena musim panas, padahal waktu itu malam, tapi kondisi mendukung untuk memeperpanjang masalah yang ada. Berawal dari ketidaksepakatan penumpang terhadap ongkos angkutan itu. Sebenarnya, dalam hal ini yang salah adalah supir. Karena ia memasang tarif ongkos yang tidak seperti biasanya. Untuk jarak asyir ke sabi’ standarnya adalah tujuh puluh lima qirsy. Kalau Cuma sampai Enpi, karena belum sampai sabi’ maka cuma lima puluh qirsy. Nah, si penumpang protes, dengan tujuan Enpi, ongkos yang diambil sama dengan tujuan Sabie. Pertengkaran pun terjadi. Antara penumpang dan sopir, saling berkeras ditengah perjalanan. Caci maki, sesekali terlontar dari keduanya, dan si penumpang tadi minta diturunkan di mahattah berikutnya. Ia pun meminta penuh kembali ongkos yang diambil. Namun, bukan selesai masalah, tapi kembali membuka debat panjang. Kita sering bilang, berantem orang mesir Cuma sekedar perang mulut. Laga alasan, siapa yang paling kuat dia yang menang. Siapa yang paling keras suaranya dia yang menang. Tapi, ya begitu. Kadang tidak ada yang mau mengalah. Sama-sama keras dan sama-sama mau menang. Kalau tidak ada yang melerai, mungkin mereka bisa bertengkar berhari-hari. Ada satu yang unik. Orang mesir suka ribut, bertengkar mulut, namun melerai mereka ditengah pertengkaran tidak terlalu sulit. Sama seperti yang terlihat ketika itu, sewaktu si penumpang turun, mobil diberhentikan dan sopir juga turun. Mereka bertengkar cukup lama. Kalaulah tidak seorang penumpang di antara kami melerai mereka, pasti tambah lama. Cukup dengan kata shallu alan nabiy, menyuruh mereka bersalawat, dan emosipun redah. Pertengkaran pun bisa berhenti. Juga, yang lebih beda adalah mereka bisa hanya marah di mulut, tanpa harus dimasuki ke dalam hati. Selesai bertengkar, selesai masalah. Tidak ada lagi yang namanya dendam. Jadi kesannya, cepat marah cepat pula hilangnya. Dalam salah satu hadis rasulullah saw pernah bersabda; orang yang kuat bukan dilihat seberapa hebatnya dia berkelahi, tapi orang yang kuat adalah orang yang mampu menguasai emosinya ketika marah. Penggambaran rasul mengenai orang hebat adalah penggambaran yang sangat tepat. Karena memang sehebat-hebatnya seseorang, dia tidak akan mungkin mampu mengalahkan lawan kalau tidak bisa mengendalikan emosi. Sebab, dalam bertanding di arena sekalipun, kalau cuma mengandalkan kekuatan tanpa mengindahkan cara, mustahil akan menang. Dan cara untuk mengalahkan lawan tidak mungkin ada kalau saat bertanding dirinya tidak mampu mengendalikan emosi. Sehingg yang terjadi, serangan demi serangan yang dilancarkan, berlalu sia-sia. Sebab tidak ada tekhnik yang mengendalikannya. Itu kalau kita lihat dalam arena pertandingan. Dalam kehidupan juga tidak jauh beda. Sama seperti saat bertanding, seketika ada sesuatu yang memancing kemarahan sesungguhnya itu adalah pintu kelemahan seseorang. Kalau ia terdorong untuk masuk ke pintu itu, tanpa ada kendali sedikitpun, maka yang akan terjadi dibelakang hari adalah penyesalan. Perhatikan orang-orang yang dikuasai nafsu amarahnya. Ia cenderung bertindak sembarangan. Tanpa pikir panjang, terkadang ia melakukan hal-hal yang justru membuat dirinya malu. Karena orang yang sedang marah, apalagi sampai berlebihan, sulit rasanya berfikir rasional. Yang penting, apa yang ada dihadapannya, dan puas hatinya meluapkan emosi kemarahan, itulah yang akan dilakukan tanpa berfikir apa dampak sesudahnya. Marah juga demikian. Kalau tidak cepat distabilkan akan membuat segala sesuatu menjadi runyam. Tidak sedikit, ada orang yang marah tanpa sebab dan alasan, maka orang-orang disekitarnya juga kebagian. Dengan kata lain orang yang makan nangka kita yang kena getahnya. Contoh , dalam keluarga kalau orang tua kita ada masalah, terus kita ada di situ, kita juga bisa menjadi lampiasan kemarahannya. Padahal, sama sekali tidak ada kaitannya. Marah yang tak terkendali juga akan melahirkan dendam yang berkepanjangan. kalau dirinya belum puas, malah keturunannya juga diwariskan untuk benci pada orang-orang yang menjadi musuh orang tuanya. Jadilah apa yang disebut dendam tujuh turunan. Dari bapak, anak, cucu, cicit semuanya diwariskan untuk membencinya. Wal hasil, kerukunan hidup bermasyarakat juga akan terganggu. Apalagi kalau marah itu munculnya dalam kalangan rumah tangga. Apalah arti tinggal di rumah gedung, tapi bagai neraka. Siang malam tak henti-hentinya bertengkar. Memang benar, pertengkaran dalam rumah tangga adalah romantika kehidupan. Tapi kalau keseringan itu mala petaka. Dan itu tugas syaitan untuk memisahkan anggota keluarga satu sama lain. Karena kalau sudah yang namanya broken home, pasti bakal menjalar ke hal-hal yang lain. Kalau semua keluarga seperti itu, artinya masyarakatnya juga broken. Kalau masyarakat broken, artinya negara juga broken. Naudzubillah minzalik http://madhan-syah.blogspot.com/

http://www.eramuslim.com/oase-iman/kenapa-harus-marah.htm

Dipublikasi di 1 | Tag | Tinggalkan Komentar

Intelegensi, Spiritual dan Emosi

Ya Allah! Ternyata sudah September lagi. Mestinya banyak peristiwa yang bisa dikabarkan di sini, tapi nyatanya tak satu hurufpun tertatah. Hari ini, hari ke-27 Ramadhan 1430 Hijriyah, saya coba kabarkan suatu fenomena yang acap saya alami tentang kecerdasan intelegensi/intelektual, spiritual dan emosi.

Kedewasaan usia ternyata tidak berbanding lurus dengan kedewasaan batin dan pikir. Ada orang yang usianya  berkisar di awal 30-an bahkan awal 40-an dan 50-an, mengagungkan tingkat intelegensi tinggi yang dimilikinya tapi ternyata  tak bisa mengendalikan diri ketika ia  marah karena suatu persoalan atau masalah yang  menyangkut  banyak orang. Sementara Islam mengisyaratkan bahwa bukanlah melarang manusia utk marah, namun yg  perlu dilakukan adalah pengendalian diri dg mengajukan pertanyaan pd diri sendiri, di antaranya: sdh tepatkah waktu, orang & substansi kemarahan itu dilakukan? Pun hal-hal spt ini menyangkut orang2 yg memiliki pengetahuan agama lebih drpd orang2 awam. Tahu dan paham sesuatu yg baik (apalagi ilmu agama) adalah tuntutan dan mulia adanya, tp  mengimplementasikannya tentu jauh lebih baik dan mulia.

Kadangkala sumber kemarahan itu adalah persoalan sepele. Memang, ada 1001 alasan utk seseorang bisa marah, tp sebaliknya ada 1001 alasan pula seseorang utk tdk marah. Sekali lagi, itu kembali pd pengendalian diri yg dimiliki org tsb. Hidup ini kan berisi banyak pilihan, kita berhak memilih apa saja tentu dg tanggung jawab akan konsekuensinya. Allah SWT telah memberikan keterangan2 ttg perbuatan baik dan buruk dg akibat (ganjaran) yg ditimbulkannya masing2. Semoga menjadi renungan diri dan semua.

Wallaahu a’lam bishshawab

Dipublikasi di 1 | Tag | Tinggalkan Komentar

ELEGI ESOK HARI

pada kebisuan yang mana
kau muarakan gundah batinmu
sementara anak-anak itu
asik berceloteh tentang hari esok
yang akan dirajutnya bersama
sosok yang tak pernah nyata

pada kehampaan yang mana
kau lemparkan resah nuranimu
sementara
mereka telah menemukan makna
dari himpunan peristiwa yang terserak
di setiap persimpangan jalan
tak lagi ada yang tersisa
pada pertaruhan segala hendak

lihatlah
persembahan itu tak lagi pantas
diletakkan di atas altar
atau ruang persembahyangan
kanvas di hadapanmu tetap kosong
dan mulai retak direjam bosan
lantas apa lagi?
selalu saja kita mesti menunggu pagi
yang kadang datang kadang menghindar
halangi sinar bertandang di pelataran
segalanya jadi tak berdasar
tak berujung
menggasing pada pilar ketakpastian
dan kau masih juga di sana
menunggu pagi dalam kelam
temani Sumbi yang resah berpeluh sesal
akrabi Jonggrang yang mengutuk malam

mengapa tak kau biarkan saja
sebuah legenda lagi tercipta
sebab kita tahu
pagi pun tak pernah setia

Dipublikasi di 1 | Tinggalkan Komentar

HARI INI AKU TAKUT SEKALI (revisi)

Hari ini aku menelusuri kelam:
selasar yang memanjang di lembaran almanak.
Labirin waktu menorehkan tanya
pada masa lalu yang hilang
dan menuntut jawab atas segala entah
yang tersembunyi di balik dongengan pengantar tidur
atau gunjingan pengisi waktu.

Hari ini aku menjejaki cemas:
hamparan menuju gerbang keabadian.
Keterkejutan menggugat nanar
pada ketakutan detak jantung
yang merobek jadwal kerja
menghantam dinding rutinitas
mengangakan rongga gamang.

Hari inikah saatku
melakoni adegan pembuka kisah paralel?
Aku hilang jejak, hilang bayang
menyadari kesendirian tawa dan tangis.
Tak lagi bisa berpikir apa-apa tentang mereka.
Sebab kau telah menunggu di sana
dalam keagungan.
Dalam kesenyapan.
Dalam segala maha.

Dipublikasi di 1 | Tinggalkan Komentar

KETIKA TIBA PADA SATU TITIK

Seringkali diri berfikir tentang baik dan buruk. Seperti apakah itu dalam diri seorang manusia. Sejelas warna hitam dan putih? Namun ternyata masih ada warna abu-abu. Kadang sebab yang baik serta merta berakibat buruk, atau juga menginginkan baik dengan sebab yang buruk. Ternyata memang diri sering diombang-ambingkan oleh suasana hati dan segala sebab yang menyertainya. Ketika ketidakkonsistenan dikonfrontasi, lantas saja selaksa apologi mengemuka. Kenapa idealisme tidak berlaku general, menembus segala ruang segala waktu segala musim segala butuh segala hendak? Seringkali diri terhenyak mendapatinya: suatu saat meneriakkan idealisme atas nama kebenaran dengan lantang namun ternyata selaksa buruk tertatah dalam nurani pada saat yang lain.

Bukankah hidup ini ibarat gema: sekali kita berteriak kita akan mendengar teriakan itu berkali-kali? Apa yang kita terima adalah yang kita beri, apa yang kita alami adalah yang kita lakukan. Namun baik dan buruk lantas saja serupa nuansa: pada awalnya adalah yang baik-baik kemudian tiada terasa berubah menjadi segala buruk. Seperti kelelahan terus berada pada garis baik. Sekali mendapat yang buruk lalu segala kambing menjadi hitam. Padahal tiadalah ada yang sia-sia. Secercah senyum akan melahirkan senyum yang sangat lebar di kemudian hari. Maka, sebenarnya apa yang tengah terjadi? Segala baik dan buruk seperti kepingan mata uang.

Memang, kita bukan malaikat. Namun setidaknya ada nurani yang punya hendak punya kendali. Kesempatan dan niat kuat yang dibutuhkan. Salah merupakan kecenderungan, namun meminimalisirnya tentu lebih baik. Maka pada titik yang mana kita akan mengkalkulasi segala baik segala buruk? Semoga…..

Tag | Tinggalkan Komentar

Hari Ini Aku Takut Sekali

Kematian adalah gerbang keabadian

adalah adegan pembuka kisah paralel

adalah segala entah.

Hari ini aku menelusuri selasarnya.

Labirin waktu menorehkan tanya

pada masa lalu yang hilang.

Sebuah jawab tersembunyi

di balik dongengan pengantar tidur

atau sekedar pengisi waktu.

Keterkejutan menggugat cemas

pada ketakutan detak jantung yang merobek jadwal kerja

mengahntam dinding rutinitas

mengangakan rongga gamang.

Hari ini aku menelusuri kelam

hilang jejak, hilang bayang

menyadari kesendirian tawa dan tangis

tak lagi bisa berpikir apa-apa tentang mereka

sebab Kau telah menunggu di sana

dalam Keagungan

dalam Kesenyapan

dalam segala Maha.

Tag | Tinggalkan Komentar

Ini Waktu Punya Siapa?

Ada yang tak terucapkan di sini

ketika hasrat purba mencari kembara

menekan, mendesak, meliarkan apa segala.

Seribu kelam menggugat tanya

pada dingin kabut hening

menyebar di setiap rongga dada dan kepala

ngendon di layar-layar komputer,

mesin faximili, pesawat-pesawat telepon

menguapkan aroma kamboja di ruang-ruang rapat,

kantor-kantor, tempat istirahat,

asrama-asrama, perpustakaan.

Wahai!

Nurani menggigil di sudut senyap tong-tong sampah

membiarkan segala slogan di televisi

menyerbu garang peradaban.

Segala pengeras suara bersekutu dengan bising kota

menahan sejuta pamflet pada setiap dinding istiqomah.

Sementara kita di sini

serupa manekin sunyi sendiri

pada tangan segala menjamah

dan menyerah pada kecongkakan waktu

yang bagai laju kereta api

meninggalkan penumpang tanpa jadwal.

Kemana semua berlari dan lenyap?

Keheningan ini begitu anarkhis

menindas segala ingin segala hendak segala.

Jam dinding bersembunyi

di balik misteri anggun gunung

dan menghilang bersama garuda yang menantang awan

dan akhirnya ada yang kita sadari lagi

terhuyung-huyung menjabat tangan Becket

yang tak juga hadirkan Godot

pada setiap perjamuan makan malam

segera rapihkan baju-celana-dasi-sepatu

jumawa menyongsong labirin ambisi

sebelum pada akhirnya terkapar

sendirian

Tag | Tinggalkan Komentar